Poin Utama
- IHSG terkoreksi 0.3% — tekanan dari sektor komoditas dan perbankan
- Rupiah melemah ke Rp 16.240 per dolar akibat penguatan DXY
- PMI Manufaktur Indonesia Mei 2026: 51.8 — masih ekspansif
Pekan pertama Juni 2026 diwarnai volatilitas tinggi di pasar saham domestik. IHSG berakhir terkoreksi 0.3% di level 7.412, ditekan oleh aksi jual di sektor komoditas akibat penurunan harga batu bara dan CPO di pasar global. Sektor perbankan juga ikut tertekan menyusul kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed pasca-rilis data tenaga kerja AS (NFP) yang lebih kuat dari ekspektasi.
Nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp 16.240 per dolar AS seiring indeks dolar (DXY) menguat ke 104.1 pasca data NFP Amerika Serikat yang mencatatkan penambahan 185.000 lapangan kerja baru — melampaui ekspektasi 160.000. Kondisi ini mempertegas kemungkinan The Fed menunda pemangkasan suku bunga hingga kuartal IV-2026, menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Di sisi positif, data PMI Manufaktur Indonesia periode Mei 2026 yang dirilis S&P Global masih berada di zona ekspansif dengan skor 51.8, menandakan aktivitas sektor industri pengolahan tetap bertumbuh. Ekspor non-migas juga tercatat naik 4.2% MoM, memberikan dukungan bagi neraca perdagangan. Investor disarankan memantau perkembangan rapat FOMC The Fed dan data inflasi AS yang akan dirilis pada pertengahan Juni sebagai penentu arah pasar selanjutnya.